Jumat, 18 November 2011

Munas




















Kali ini jelajah kota tua saya ke Munas atau Museum Nasional atau sering disebut juga Museum Gajah.

Museum ini sering juga disebut dengan museum gajah. Tanya kenapa. Karena di bagian halaman depan museum ini terdapat patung gajah pemberian Raja Thailand. That’s all. Lainnya karena gedung ini peninggalan Belanda jadinya ya arsitekturnya bergaya eropa.

Museum ini memiliki 2 gedung saya pikir. Diantaranya ada semacam selasar penghubung yang dindingnya dari kaca, dan diluarnya ada semacam tempat theater terbuka yang bisa digunakan untuk pertunjukan-pertunjukan. Bersihnya kawasan ini membuat saya berdecak kagum juga.

Nah, sebelum kita masuk ke gedung, saya mau bercerita juga mengenai fasilitas yang ada di sana. Meski tidak sophisticated kayak Museum BI, museum ini memiliki area parkir bawah tanah yang cukup menampung banyak mobil. Di area parkir juga terdapat mushola yang cukup besar dan bersih.

















Gedung kedua yang terpisah dari bangunan pertama terdapat souvenir shop, restoran dan elevator yang menuju ke toilet atau ruang ganti. Disini terlalu banyak space kosong saya rasa. Namun, kebersihannya patut diacungi jempol. Kami pun mengadakan briefing sebelum memasuki museum sambil leyeh-leyeh di lantai selasar.

Senangnya, kami mendapatkan guide yang baik dan ramah. Ada tempat penitipan tas yang tidak terlalu besar di depan, tapi kami memilih membawa tas masing-masing.

Di bagian lobby terdapat peta museum, luas juga ternyata museum ini.
















Pertama-tama kami diajak ke bagian koleksi arca. Dari mulai arca Ganesha berikut legendanya beserta barang apa saja yang dibawa ditangannya sampe arca Adityawarman yang amat tinggi lagi besar.





















Well, hanya 2 cerita itu yang menarik hati saya. Ganesha karena dia dipakai sebagai lambang salah satu universitas terkenal di Indonesia dan Adityawarman karena keunikan ceritanya.

Adityawarman digambarkan sebagai seorang sadis yang juga killer, ditunjukkan dengan dia berpesta diatas tengkorak manusia dan minum darah dari tengkorak manusia-manusia yang dia bunuh. Semacam ritual katanya. Iih...

Nah, patung Adityawarman yang supergede ini ditemukan di Sumatra-kalau nggak salah, dan ada cerita unik mengenai penemuan arca ini. Bekas gupil/cacat mengkilat di kaki patung itu katanya akibat para petani yang sering mengasah arit mereka di arca yang waktu itu belum ditemukan... jadi deh cacat, hehe. Patung ini juga berjasa untuk museum ini, karena pernah ikut beberapa kali pameran di luar negeri.

Hm, hati saya sedikit lega mendengarnya. Setidaknya, dengan cara begitu, museum ini akan tetap lestari beserta isinya. Walaupun para pengunjung hanya diwajibkan membayar Rp. 2000 sekali masuk, namun setidaknya museum ini menemukan sumber lain untuk menggalang dana.

Setelah dari ruang arca, kami beralih ke lantai 2, koleksi emas dan perhiasan. Di area ini, no camera allowed, haha. Akhirnya saya cuma bisa berdecak kagum liat mahkota, perhiasan, tameng, senjata tangan, yang semuanya terbuat dari emas beserta batu permata. Subhanallah ...

Lanjut dari ruang emas dan perhiasan, kami menuju bagian barat museum ini banyak pintu yang perlu dibuka saya pikir. Seperti biasa, saya tidak melewatkan kesempatan untuk foto-foto.

















Di bagian koleksi umum, dipajang berbagai barang kebudayaan yang ada di Indonesia. Tempat tidur panggung, gamelan set, miniatur barong, pakaian adat, perabotan, perhiasan sederhana, perahu kayu orang papua, sampai totem yang tinggi menjulang ke langit-langit. Wow, seperti kita diajak berkeliling Indonesia!



















Kalau ke bagian ini saya pikir harus beramai-ramai ya, soalnya tempatnya agak singup/spooky gitu deh akibat penerangan yang remang-remang.

















Inilah akhir dari tur saya di museum Nasional. Highly recomended untuk siswa SD, SMP, SMA, kuliah, atau pasca kayak saya, hehehehe.

2 komentar:

  1. photo-ny banyak-in dikit kenapa sih....????
    Trims

    BalasHapus
  2. @ someone: iyaa.. belum sempet aplot & nulis lagi nih ^_^

    BalasHapus