Rabu, 28 Juli 2010

Kisah Telur dan Tempe Gosong

Suatu malam, ibu yg bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari,
membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan
makan malam utk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe goreng,
sambal teri dan nasi.

Sayangnya krn mengurusi adik yg merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit
gosong!
... ...
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tdk bisa berbuat banyak, minyak gorengnya
sdh habis.

Kami menunggu dgn tegang apa reaksi ayah yg pulang kerja pasti sdh capek,
melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.

Luar biasa! Ayah dgn tenang menikmati dan memakan semua yg disiapkan ibu dgn
tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya!" Lalu ayah terus
menanyakan kegiatan sy & adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan, sy mendengar ibu meminta maaf krn telor &
tempe yg gosong itu & satu hal yg tidak pernah sy lupakan adalah apa yg ayah
katakan:

"Sayang, aku suka telor & tempe yg gosong."

Sebelum tidur, sy pergi utk memberikan ciuman selamat tidur kpd ayah, sy
bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur & tempe gosong?"

Ayah memeluk sy erat dg kedua lengannya & berkata, "Anakku, ibu sdh bekerja
keras sepanjang hari & dia benar-benar sdh capek,

Jadi sepotong telor & tempe yg gosong tdk akan menyakiti siapa pun kok!"

Ini pelajaran yg saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; "Belajar menerima
kesalahan orang lain, adalah satu kunci yg sangat penting utk menciptakan
sebuah hubungan yg sehat, bertumbuh & abadi.

Ingatlah emosi tdk akan pernah menyelesaikn masalah yg ada, jd selalulah
berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya
sendiri.

Janganlah kita menjadi org yg egois hanya mau dimengerti, tapi tdk mau
mengerti.

Tua itu pasti, tapi Dewasa itu PILIHAN.

(dari milis teman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar